Manfaat Makan Bersama Keluarga

Makan bersama adalah rutinitas yang terkesan sepele dalam kehidupan warga metropolitan. Akibat padatnya aktivitas, ayah dan ibu harus meninggalkan rumah pagi-pagi dan pulang ke kantor setelah lampu-lampu jalanan terang benderang. Padahal banyak manfaat yang bisa diraih dari kebiasaan makan bersama keluarga. Salah satunya guna mencegah pemakaian narkoba, rokok dan minuman keras sedini mungkin.

Joseph A. Califano, Jr, pendiri dan pimpinan The National Center of Addiction and Substance Abuse at Columbia University, dalam buku karyanya How to Raise a Drug-Free Kidhe memaparkan bahwa anak-anak yang rutin makan malam bersama orangtuanya, cenderung terhindar dari bahaya narkoba, rokok dan minuman keras. Kakek dari enam cucu ini juga menuliskan hasil penelitiannya bahwa orangtua yang menyempatkan diri untuk makan malam dengan keluarganya, lebih tahu masalah sekolah, perasaan dan pikiran, pergaulan, ketertarikan dan bagaimana perubahan mood anak-anaknya. Read the rest of this entry »

Pola Asuh dan Karakter Anak

Sebagai orangtua tentunya kita mengharapkan anak tumbuh menjadi sosok yang mandiri, bertanggungjawab, cerdas dan harapan-harapan baik lainnya. tak ada orangtua yang berharap anaknya kelak tumbuh menjadi sosok pemalas, mudah putus asa, tidak mandiri dan semacamnya.

Tapi terkadang orangtua heran, mengapa anaknya justru tumbuh menjadi pribadi yang kurang baik. Padahal sebagai orangtua kita merasa sudah memberi yang terbaik, memfasilitasi, memberi kasih sayang. Penerapan pola asuh yang keliru sering tak disadari orangtua, padahal inilah yang akan membentuk karakter anak kelak.

Pola Asuh Otoriter

Menurut Psikolog Diana Blumberg Baumrind terdapat empat tipe pola asuh orangtua pada buah hati:

Authoritative Parenting (demokrasi)

Pola asuh demokrasi ini bisa dikatakan paling ideal, sebab disini orangtua memberikan kebebasan pada anak untuk berkreasi dan mengeksplorasi berbagai hal sesuai dengan kemampuannya. Akan tetapi orangtua tetap memegang peranan penting dalam melakukan pengawasan pada anak. Orangtua tetap menerapkan aturan-aturan yang telah disepakati bersama dengan anak. Sehingga anak merasa bebas namun bertangungjawab atas segal hal yang ia lakukan.

Anak-anak hasil pola asuh demokrasi biasanya mandiri. Ia juga akan tumbuh menjadi anak yang kreatif karena tidak dibatasi dan bebas menyalurkan kemampuannya. Anak dengan pola asuh semacam ini pun dapat mengontrol diri dengan baik sebab masih dalam pengawasan dari orangtua. Dengan pola asuh demokrasi anak akan lebih menghormati orangtua. Read the rest of this entry »

Mengenalkan Buku Sejak Dini, Optimalisasi Kecerdasannya Kelak

Stimulus Optimalkan Perkembangan Anak

Stimulus atau rangsangan bagi perkembangan anak merupakan salah satu hal terpenting yang harus diberikan orangtua. Asupan nutrisi sebaik apa pun jika tak didukung dengan stimulus atau rangsangan yang baik tak kan membuat perkembangan anak menjadi maksimal.

Tentunya semua orangtua sangat mengharapkan si kecil tumbuh menjadi anak yang cerdas. Untuk itu stimulus otak anak perlu dilakukan orangtua sejak anak usia dini. Menurut psikolog terkemuka dr. Rose Mini Adi Prianto, Mpsi, kecerdasaan otak anak dapat dioptimalkan dengan berbagai cara.
Read the rest of this entry »

Dukung Sekolah Anak dari Rumah

Ibu dan AnakSebagai orangtua kita tak bisa hanya menyerahkan segala hal mengenai pendidikan anak pada sekolah saja. Sebab sesungguhnya pendidikan utama anak ada dalam keluarga. Anak lebih banyak memiliki waktu bersama keluarga dibandingkan sekolah. Untuk itu seharusnya rumah bisa jadi jembatan penghubung antar pendidikan anak di sekolah dan di rumah.

Namun, orangtua seringkali tak menyadari hal ini. Mereka menyerahkan seluruh tanggung jawab mendidik anak pada guru-guru di sekolah. Komunikasi yang tak terjalin antara orangtua dan pihak sekolah pun terkadang membuat anak menjadi bingung metode mana yang harus mereka turuti.

Berikut ada beberapa tips bagi orangtua agar rumah bisa mendukung kesuksesan anak di sekolah:

  1. Ciptakan lingkungan rumah yang mendukung anak di sekolah. Seperti membangun rutinitas harian dalam keluarga, misalnya makan bersama namun diselingi diskusi mengenai Pekerjaan Rumah (PR) yang didapat anak. Atau mengerjakan PR bersama di ruang keluarga sehingga antar anggota keluarga dapat saling membantu satu sama lain.
  2. Tunjukkan pada anak bahwa apa yang dipelajari di sekolah akan berguna baginya kelak saat ia dewasa. Misalnya dalam hal matematika ajarkan si kecil bagaimana ia menghitung uang yang ia dapatkan dengan ilmu matematikanya. Biasakan anak melihat anda membaca, menulis, menggunakan komputer di rumah.
  3. Pastikan rumah anda dipenuhi berbagai buku yang sesuai dengan anak kebutuhan Anak. Kumpulkan beragam buku pengetahuan maupun bacaan bagi si kecil di rumah, mulai dari dongeng, buku cerita bergambar, majalah, surat kabar, buku pengetahuan, dan sebagainya. Jadikan buku sebagai hadiah bagi putra-putri Anda.
  4. Read the rest of this entry »

Pengasuh Gratisan yang Mencerdaskan

Sebagian orangtua atau pengasuh sering meletakkan balita di depan televisi ketika mereka menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Hal yang berbeda dilakukan oleh ibunya Qurrota Aini, penulis cilik yang meraih rekor Muri pada 2005. Pengasuh gratisan dipilih untuk mengasuh Aini “Mama dulu enggak punya pembantu, supaya beliau bisa beres-beres rumah, aku dimasukkan ke boks bermain sambil ditemani buku dan majalah anak-anak. Katanya, kalau sudah dikelilingi buku, aku anteng banget,” ungkap Aini. Ya, pengasuh itu bernama buku.

Tak heran bila di umur 3 tahun, Aini mulai menunjukkan minat membaca dan menulis. “Aku sering tiba-tiba minta diajarin bikin huruf A. Setelah diberikan contoh, aku langsung meniru di kertas. Sampai akhirnya semua huruf selesai dipelajari. Makanya di umur 4 tahun, aku sudah lancar membaca dan menulis. Sejak itu, aku sering menulis perasaanku, seperti ‘mama cerewet’, ‘ayah jahat’, ‘adik menangis terus’. Pokoknya, kalau aku kesal atau senang, aku tulis.”

Karena aku senang membaca dan menulis perasaannya, sang ibu menganjurkan Aini menulis buku harian. Karena Aini juga bisa menggambar, ia melettakkan gambarnya di buku harian “Jadi aku menambahi gambar-gambar di sebelah tulisannya, seperti membuat komik sendiri.”

“Suatu hari, aku baca di majalah anak-anak tentang Faiz yang penulis cilik. Aku bilang sama Mama, aku pengin kayak dia. Hebat banget. Mama bilang, bisa aja. Toh, tulisanku sudah banyak, tersebar di mana-mana di rumah. Akhirnya aku kumpulin, terus salah satunya aku kirim ke harian Republika. Eh, cerpen yang aku kirim, judulnya ‘Pengalamanku Ikut Lomba’, dimuat sebulan kemudian. Umurku waktu itu 6 tahun. Tentu saja aku senang. Akhirnya, aku menulis terus, apa saja, cerpen, novel, dan puisi,” ujar alumni SDIT Insan Mandiri, Jakarta Selatan ini.

Kesenangan menulis dan membaca tidak mengganggu aktivitas belajar Aini di sekolah, buktinya Juli lalu Aini lulus ujian SD dengan nilai yang cukup memuaskan. Ia mendapatkan 9,25 untuk matematika, 9,00 untuk Bahasa Indonesia, dan 9,25 untuk Ilmu Pengetahuan Alam dan Sains. Aini menduduki peraih nilai tertinggi kedua di sekolahnya. Menurutnya Aini nilai-nilai tersebut merupakan hasil belajar, do’anya dan juga dukungan orangtua serta guru-guru di sekolahnya.

Parenting Pustaka Lebah

Selamat Datang di website Parenting Pustaka Lebah.